Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Narkoba

Pergaulan Sehat untuk Mencegah Penyalahgunaan Narkoba

Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu: 1. Memahami ciri-ciri pergaulan yang sehat. 2. Membedakan hubungan pertemanan yang sehat dan berisiko. 3. Menentukan batasan dalam pergaulan. 4. Mengelola konflik dan tekanan dalam kelompok pertemanan. 5. Membangun hubungan sosial yang mendukung kehidupan positif.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 21 August 2026
Pergaulan Sehat untuk Mencegah Penyalahgunaan Narkoba
Pergaulan Sehat untuk Mencegah Penyalahgunaan Narkoba

1. Apa Itu Pergaulan Sehat?

Pergaulan sehat adalah hubungan dengan orang lain yang memberikan ruang untuk saling menghargai, berkembang, dan melakukan aktivitas yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam pergaulan yang sehat, seseorang tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar.

Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Pergaulan sehat ditandai dengan:

  • saling menghargai,
  • saling mendukung,
  • mampu menerima perbedaan,
  • tidak memaksakan kehendak,
  • memiliki batasan yang sehat,
  • dan mendorong perilaku positif.

2. Teman Baik Tidak Harus Selalu Setuju

Kadang kita berpikir:

"Teman yang baik adalah teman yang selalu mendukung saya."

Tidak selalu.

Teman yang baik justru berani mengingatkan ketika kita melakukan sesuatu yang berisiko.

Misalnya:

"Menurut saya, itu bukan pilihan yang baik."

Kalimat tersebut bukan berarti teman tersebut membenci kita.

Justru bisa menjadi bentuk kepedulian.

Teman yang baik membantu kita menjadi lebih baik, bukan sekadar membuat kita merasa nyaman.


3. Kenali Ciri Pergaulan yang Sehat

Perhatikan beberapa ciri berikut.

Pergaulan sehat

Teman:

  • menghargai pilihanmu,
  • tidak memaksa,
  • mendukung pendidikan atau pekerjaanmu,
  • menghargai keluarga,
  • dapat diajak berdiskusi,
  • mengajak melakukan kegiatan positif,
  • dan menghormati batas pribadi.

Pergaulan berisiko

Teman:

  • sering memaksa,
  • meremehkan keputusanmu,
  • mengajak melakukan tindakan berbahaya,
  • meminta menyimpan barang yang tidak jelas,
  • menganggap perilaku berisiko sebagai hal biasa,
  • atau membuat kamu takut jika tidak mengikuti kelompok.

4. Jangan Takut Memiliki Batasan

Setiap orang memiliki hak untuk menentukan batas dalam pergaulan.

Misalnya:

"Saya tidak nyaman dengan hal itu."

"Saya tidak mau ikut."

"Saya tidak ingin membicarakan hal tersebut."

"Saya lebih memilih melakukan kegiatan lain."

Batasan bukan berarti kita sombong.

Batasan membantu kita menjaga diri.


5. Belajar Memilih Teman

Kita tidak perlu memiliki banyak teman untuk memiliki kehidupan sosial yang sehat.

Yang lebih penting adalah kualitas hubungan.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya merasa aman bersama mereka?
  • Apakah mereka menghargai keputusan saya?
  • Apakah mereka mendukung tujuan saya?
  • Apakah saya menjadi pribadi yang lebih baik ketika bersama mereka?
  • Apakah saya dapat menjadi diri sendiri?

Jika sebagian besar jawabannya ya, kemungkinan hubungan tersebut memberikan pengaruh positif.


6. Teman Tidak Harus Menjadi Sama

Perbedaan hobi, karakter, kemampuan, bahkan pendapat adalah hal yang normal.

Kita dapat berteman dengan orang yang:

  • suka game
  • suka olahraga
  • suka musik
  • suka membaca
  • suka teknologi
  • suka seni

Perbedaan tersebut bukan masalah selama hubungan dibangun atas dasar saling menghargai.


7. Hindari Mentalitas "Ikut-Ikutan"

Salah satu masalah dalam kelompok pertemanan adalah keinginan untuk selalu mengikuti kelompok.

Misalnya:

"Teman saya melakukan itu, jadi saya juga harus melakukannya."

Ini disebut perilaku ikut-ikutan.

Sebelum mengikuti sesuatu, berhenti sejenak dan pikirkan:

Apakah ini baik untuk saya?

Jika jawabannya tidak, kita tidak perlu melakukannya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari kelompok.


8. Memiliki Tujuan Membantu Kita Memilih Lingkungan

Orang yang memiliki tujuan hidup biasanya lebih selektif dalam memilih aktivitas dan lingkungan.

Misalnya seseorang ingin:

  • menyelesaikan pendidikan,
  • mendapatkan pekerjaan,
  • membangun bisnis,
  • menjadi atlet,
  • mengembangkan kemampuan teknologi.

Ia akan lebih membutuhkan lingkungan yang mendukung tujuan tersebut.

Coba pikirkan:

"Apakah pergaulan saya saat ini membantu saya mendekati tujuan hidup saya atau justru menjauhkannya?"

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengevaluasi lingkungan pertemanan.


9. Kelola Konflik dengan Cara Sehat

Konflik dalam pertemanan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir.

Jika terjadi masalah:

Langkah 1 — Tenangkan diri

Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah.

Langkah 2 — Dengarkan

Berikan kesempatan kepada teman menjelaskan sudut pandangnya.

Langkah 3 — Sampaikan pendapat

Gunakan kalimat:

"Saya merasa tidak nyaman ketika..."

bukan:

"Kamu memang selalu salah!"

Langkah 4 — Cari solusi

Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi.


10. Jangan Menukar Prinsip dengan Penerimaan

Kadang seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan karena ingin diterima kelompok.

Misalnya:

"Kalau saya tidak ikut, mereka mungkin meninggalkan saya."

Namun, diterima oleh kelompok tidak seharusnya mengharuskan kita mengorbankan keselamatan dan prinsip pribadi.

Ingat:

Lebih baik kehilangan sebuah kelompok daripada kehilangan kendali atas masa depan sendiri.


11. Bangun Kelompok Pertemanan yang Positif

Kita dapat menciptakan lingkungan positif, bukan hanya mencarinya.

Misalnya membentuk kelompok:

  • Komunitas olahraga
  • Kelompok belajar teknologi
  • Klub membaca
  • Komunitas seni
  • Kelompok peduli lingkungan
  • Kegiatan sosial

Dengan demikian, pertemanan dibangun berdasarkan aktivitas dan tujuan positif.


12. Jika Teman Mengalami Masalah

Bayangkan seorang teman mulai mengalami masalah dalam kehidupan sosial atau akademiknya.

Jangan langsung mengatakan:

"Itu masalahmu."

Kita dapat mengatakan:

"Kalau kamu mau cerita, saya siap mendengarkan."

Jika masalahnya serius dan membutuhkan bantuan, dorong teman tersebut untuk berbicara dengan:

  • orang tua,
  • guru,
  • dosen,
  • konselor,
  • atau tenaga profesional yang sesuai.

Menjadi teman yang baik bukan berarti harus menyelesaikan semua masalah teman.

Terkadang, membantu seseorang menemukan orang yang tepat untuk dimintai bantuan sudah merupakan bentuk kepedulian.


13. Pergaulan Sehat di Dunia Nyata dan Digital

Pergaulan sekarang tidak hanya terjadi secara langsung.

Kita juga memiliki:

  • grup WhatsApp
  • komunitas online
  • komunitas game
  • media sosial
  • forum internet

Prinsip pergaulan sehat tetap berlaku.

Di dunia digital:

  • hormati orang lain,
  • jangan menyebarkan informasi pribadi,
  • jangan ikut-ikutan tren berbahaya,
  • jangan menyebarkan konten yang mempromosikan narkoba,
  • dan tinggalkan komunitas yang terus mendorong perilaku berisiko.

14. Jadilah Teman yang Memberikan Pengaruh Positif

Pencegahan narkoba tidak harus selalu dilakukan melalui kampanye besar.

Kita dapat memulainya dari kelompok kecil.

Misalnya:

"Ayo olahraga."

"Ayo belajar bersama."

"Ayo buat kegiatan positif."

"Kalau ada masalah, kita cari bantuan."

Satu orang yang memberikan pengaruh positif dapat memengaruhi kelompoknya.

Dan kelompok yang sehat dapat memberikan pengaruh positif kepada lingkungan yang lebih luas.


Aktivitas Pembelajaran — "Peta Pergaulanku"

Untuk website e-learning, bagian ini dapat dibuat sebagai aktivitas interaktif.

Peserta diminta menuliskan tiga kelompok atau lingkungan yang paling sering mereka ikuti.

Contoh:

Lingkungan Aktivitas Pengaruh
Teman sekolah Belajar Positif
Komunitas olahraga Olahraga Positif
Grup online Diskusi Perlu diperhatikan

Kemudian peserta menjawab:

"Lingkungan mana yang paling memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan saya?"

dan

"Apa yang dapat saya lakukan agar pergaulan saya menjadi lebih sehat?"

Aktivitas ini membantu peserta mengevaluasi lingkungan mereka sendiri, bukan sekadar menghafal teori.


Referensi

  1. Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN) — informasi dan program pencegahan penyalahgunaan narkoba. BNN RI
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — edukasi kesehatan dan pencegahan NAPZA. Kemenkes RI – Ayo Sehat
  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Database Peraturan BPK RI