A. Memahami 1.000 Hari Pertama Kehidupan
1.000 HPK dapat dibagi menjadi beberapa tahap penting:
Masa kehamilan
↓
Kelahiran
↓
Usia 0–6 bulan
↓
Usia 6–12 bulan
↓
Usia 12–24 bulan
Setiap tahap memiliki kebutuhan yang berbeda.
Hal yang dilakukan pada satu tahap akan menjadi dasar untuk tahap berikutnya.
Karena itu, pencegahan stunting sebaiknya tidak dilakukan secara terpisah-pisah.
B. Tahap 1 — Masa Kehamilan
Pada masa kehamilan, perhatian utama diberikan kepada kesehatan ibu dan pertumbuhan janin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi:
- pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran;
- pemenuhan kebutuhan gizi ibu;
- konsumsi suplemen atau tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan;
- pencegahan penyakit dan infeksi;
- menghindari asap rokok;
- menjaga kesehatan mental dan kondisi emosional;
- mempersiapkan persalinan;
- mempersiapkan rencana perawatan bayi setelah lahir.
Peran keluarga
Keluarga dapat membantu memastikan ibu tidak menjalani masa kehamilan sendirian.
Dukungan dapat berupa:
- menemani pemeriksaan;
- membantu pekerjaan rumah;
- menyediakan makanan;
- membantu memenuhi kebutuhan ibu;
- memberikan dukungan emosional.
C. Tahap 2 — Persiapan Menjelang Kelahiran
Menjelang persalinan, keluarga perlu mulai mempersiapkan kebutuhan ibu dan bayi.
Persiapan bukan hanya mengenai perlengkapan bayi.
Keluarga juga perlu mengetahui:
- tempat persalinan;
- tenaga kesehatan yang akan membantu;
- transportasi;
- orang yang dapat mendampingi ibu;
- dokumen yang diperlukan;
- rencana jika terjadi kondisi darurat.
Mengapa persiapan penting?
Ketika terjadi kondisi yang membutuhkan pertolongan, keluarga dapat mengambil keputusan lebih cepat.
D. Tahap 3 — Bayi Baru Lahir
Masa segera setelah kelahiran merupakan periode penting.
Keluarga perlu memastikan bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.
Hal yang perlu diperhatikan meliputi:
- kondisi bayi setelah lahir;
- pemberian ASI sedini mungkin sesuai kondisi ibu dan bayi;
- menjaga kehangatan bayi;
- perawatan tali pusat sesuai anjuran;
- pemeriksaan bayi baru lahir;
- imunisasi sesuai jadwal;
- pemantauan kondisi bayi.
Jika bayi memiliki kondisi khusus atau membutuhkan perawatan tambahan, keluarga perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.
E. Tahap 4 — Usia 0–6 Bulan
Pada periode ini, perhatian utama diarahkan pada:
Kesehatan
- pemantauan kondisi bayi;
- imunisasi sesuai jadwal;
- pemeriksaan kesehatan;
- pencegahan infeksi.
Pemberian makan
ASI merupakan makanan utama bayi pada periode ini dan pemberian ASI eksklusif selama sekitar enam bulan direkomendasikan apabila kondisi ibu dan bayi memungkinkan.
Jika terdapat masalah menyusui, keluarga sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan.
Pengasuhan
Bayi membutuhkan:
- respons terhadap kebutuhan;
- sentuhan;
- komunikasi;
- interaksi;
- lingkungan yang aman.
F. Tahap 5 — Usia 6–12 Bulan
Memasuki usia sekitar enam bulan, kebutuhan nutrisi anak meningkat.
Pada tahap ini, keluarga perlu mulai memperhatikan:
- pemberian MPASI yang sesuai;
- keberagaman makanan;
- sumber protein;
- tekstur makanan;
- frekuensi pemberian makan sesuai usia;
- keamanan makanan;
- keberlanjutan pemberian ASI;
- pemantauan pertumbuhan.
Pada tahap ini anak juga semakin aktif mengeksplorasi lingkungan.
Karena itu, keamanan rumah perlu semakin diperhatikan.
G. Tahap 6 — Usia 12–24 Bulan
Pada usia ini anak semakin aktif dan mulai mengembangkan berbagai kemampuan.
Keluarga perlu mendukung:
- pola makan yang beragam;
- pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih sesuai rekomendasi;
- kebiasaan makan yang baik;
- kebersihan diri;
- aktivitas fisik;
- stimulasi;
- interaksi sosial;
- pemantauan pertumbuhan dan perkembangan;
- pencegahan penyakit.
Pada tahap ini, anak juga mulai semakin banyak makan makanan keluarga.
Orang tua perlu memastikan makanan keluarga yang diberikan kepada anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
H. Pencegahan Stunting sebagai Sebuah Rantai
Pencegahan stunting dapat dibayangkan sebagai sebuah rantai.
Ibu sehat
↓
Kehamilan terpantau
↓
Bayi lahir dan mendapatkan perawatan yang baik
↓
ASI dan pemberian makanan sesuai usia
↓
Anak terlindungi dari infeksi
↓
Pertumbuhan dan perkembangan dipantau
↓
Masalah ditemukan lebih awal
↓
Mendapatkan tindak lanjut
Jika salah satu bagian mengalami masalah, bagian tersebut perlu segera diperhatikan.
I. Menentukan Prioritas
Tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama.
Ada keluarga yang memiliki akses makanan yang baik tetapi mengalami masalah sanitasi.
Ada keluarga yang memiliki lingkungan sehat tetapi mengalami kesulitan dalam akses pelayanan kesehatan.
Karena itu, keluarga perlu menentukan:
“Apa masalah yang paling penting untuk diperbaiki terlebih dahulu?”
Contohnya:
Jika masalah utama adalah anak sering mengalami diare, prioritas dapat diarahkan pada:
- keamanan air;
- sanitasi;
- kebersihan tangan;
- keamanan makanan;
- konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Jika masalah utama adalah pertumbuhan anak tidak sesuai yang diharapkan, prioritasnya adalah:
- memastikan pengukuran dilakukan dengan benar;
- berkonsultasi dengan tenaga kesehatan;
- mencari penyebab;
- mengikuti tindak lanjut.
J. Mengatasi Hambatan Ekonomi
Pencegahan stunting tidak selalu berarti membeli makanan mahal.
Keluarga dapat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia secara lokal.
Yang perlu diperhatikan adalah:
- keberagaman makanan;
- sumber protein;
- kebersihan;
- jumlah dan frekuensi sesuai kebutuhan;
- kemampuan keluarga.
Bahan pangan lokal dapat menjadi bagian penting dari pola makan keluarga.
Contohnya dapat meliputi:
- telur;
- ikan;
- tahu;
- tempe;
- kacang-kacangan;
- sayuran;
- buah-buahan;
- bahan pangan pokok setempat.
Pemilihan bahan makanan tetap perlu disesuaikan dengan usia anak dan kondisi keluarga.
K. Mengatasi Hambatan Waktu
Kesibukan orang tua dapat menjadi tantangan.
Pencegahan stunting tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit.
Kebiasaan dapat dimasukkan ke dalam rutinitas:
Saat makan → perhatikan kualitas makanan
Saat sebelum makan → cuci tangan
Saat bermain → lakukan stimulasi
Saat ke Posyandu → pantau pertumbuhan
Saat memasak → perhatikan keamanan makanan
Dengan cara ini, pencegahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
L. Mengatasi Hambatan Informasi
Keluarga saat ini dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber:
- media sosial;
- grup percakapan;
- video;
- keluarga;
- tetangga;
- internet.
Masalahnya, tidak semua informasi benar.
Sebelum mengikuti suatu anjuran, tanyakan:
- Siapa yang memberikan informasi?
- Apakah sumbernya terpercaya?
- Apakah informasi tersebut sesuai dengan rekomendasi kesehatan?
- Apakah informasi tersebut sesuai dengan usia anak?
- Apakah informasi tersebut dapat dikonfirmasi kepada tenaga kesehatan?
Prinsip:
Tidak semua informasi yang banyak dibagikan berarti benar.
M. Menghadapi Tradisi dan Kebiasaan Keluarga
Tradisi keluarga merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Namun, ketika berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, keluarga perlu membedakan antara:
tradisi yang tidak membahayakan
dan
praktik yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Jika terdapat perbedaan antara kebiasaan keluarga dengan rekomendasi kesehatan, diskusikan dengan tenaga kesehatan.
Tujuannya bukan menghilangkan budaya, tetapi memastikan praktik yang dilakukan tetap aman bagi ibu dan anak.
N. Pentingnya Pengambilan Keputusan Bersama
Keputusan mengenai kesehatan anak sebaiknya tidak hanya dibuat oleh satu orang.
Ayah, ibu, dan anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan perlu memiliki pemahaman yang sama.
Misalnya mengenai:
- makanan anak;
- kebersihan;
- imunisasi;
- kunjungan pelayanan kesehatan;
- pengasuhan;
- penggunaan obat;
- penanganan ketika anak sakit.
Kesepakatan keluarga dapat mengurangi kebingungan dan membuat penerapan kebiasaan sehat lebih konsisten.
O. Kapan Keluarga Tidak Boleh Menunggu?
Ada kondisi yang tidak sebaiknya ditunda hanya karena menunggu jadwal Posyandu atau pemeriksaan berikutnya.
Misalnya anak:
- mengalami kesulitan bernapas;
- mengalami kejang;
- sangat lemah;
- tidak mau minum;
- mengalami muntah berulang;
- menunjukkan tanda dehidrasi;
- mengalami kondisi yang memburuk dengan cepat.
Dalam kondisi tersebut, keluarga perlu mencari pertolongan medis segera.
P. Pencegahan Stunting Membutuhkan Konsistensi
Perubahan tidak harus besar.
Yang lebih penting adalah dilakukan secara konsisten.
Contoh:
Bukan hanya satu kali membawa anak ke Posyandu, tetapi melakukan pemantauan secara rutin.
Bukan hanya satu kali memberikan makanan beragam, tetapi menjadikannya bagian dari pola makan sehari-hari.
Bukan hanya mencuci tangan ketika ada petugas kesehatan, tetapi menjadikannya kebiasaan keluarga.
Prinsip:
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih bermakna daripada tindakan besar yang hanya dilakukan sesekali.
Q. Peran Masyarakat
Pencegahan stunting tidak berhenti di dalam rumah.
Lingkungan masyarakat juga dapat mendukung melalui:
- Posyandu;
- kader kesehatan;
- kegiatan edukasi;
- lingkungan yang bersih;
- akses air dan sanitasi;
- dukungan terhadap ibu hamil;
- dukungan terhadap keluarga dengan anak kecil.
Keluarga yang mengalami kesulitan dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
R. Peran Pemerintah dan Layanan Kesehatan
Pencegahan stunting merupakan upaya multisektor.
Pemerintah dan berbagai institusi berperan dalam menyediakan:
- pelayanan kesehatan;
- program gizi;
- imunisasi;
- sanitasi;
- edukasi;
- perlindungan sosial;
- pemantauan dan intervensi sesuai kebijakan.
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 menjadi salah satu landasan nasional dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Dengan demikian, keluarga merupakan bagian dari sistem yang lebih besar dalam upaya pencegahan stunting.
S. Menjadikan Pencegahan sebagai Kebiasaan
Pencegahan stunting tidak perlu dipahami sebagai daftar kewajiban yang harus dilakukan sekaligus.
Lebih baik keluarga membangun kebiasaan secara bertahap.
Misalnya:
Minggu pertama: memperbaiki kebiasaan kebersihan.
Minggu berikutnya: memperbaiki pola makan.
Selanjutnya: memastikan pemantauan kesehatan dilakukan.
Kemudian kebiasaan tersebut dipertahankan dan dikembangkan.
Pendekatan bertahap dapat membantu keluarga menerapkan perubahan secara lebih realistis sesuai kemampuan masing-masing.
T. Dukungan untuk Keluarga yang Mengalami Kesulitan
Tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang sama.
Keluarga mungkin menghadapi:
- keterbatasan ekonomi;
- keterbatasan waktu;
- jarak ke fasilitas kesehatan;
- kurangnya pengetahuan;
- keterbatasan dukungan keluarga;
- masalah sosial lainnya.
Dalam kondisi tersebut, keluarga tidak seharusnya merasa gagal.
Langkah yang lebih tepat adalah mencari sumber dukungan yang tersedia.
Keluarga dapat berdiskusi dengan kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa/kelurahan, atau layanan terkait untuk mengetahui dukungan yang dapat diakses.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Kementerian Kesehatan RI. Buku KIA – Kementerian Kesehatan RI
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia – Kementerian Kesehatan RI
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1000 HPK Kunci Cegah Stunting. Ayo Sehat. Ayo Sehat – 1000 HPK Kunci Cegah Stunting
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat. Ayo Sehat – Stunting
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Kementerian Kesehatan RI.
- Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. JDIH BPK RI – Perpres Nomor 72 Tahun 2021
- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Materi dan kebijakan terkait percepatan penurunan stunting. BKKBN – Percepatan Penurunan Stunting